jump to navigation

September 10, 2011

Posted by nindtaa in chocolate.
Tags: ,
trackback
Dengan puisi aku bernyanyi-Sampai sejauh umurku nanti-Dengan puisi aku bercinta-Berbatas cakrawala.
Dengan puisiaku mengenang-Keabadian yang akan datang-Dengan puisi aku menangis-Jarum waktu bila kejam mengiris.
Dengan puisi aku mengutuk-Nafas zaman yang busuk-Dengan puisi aku berdoa-Perkenanlah kiranya…
(Tauifq Ismail, 1965)
Adakah suara cemara. Mendesing menderu kepadamu. Adakah melintas sepintas. Gemersik daunan lepas/ Deretan bukit-bukit biru. Menyeru lagu itu. Gugusan mega. Ialah kencana/ Adakah suara cemara. Mendesing menderu padamu. Adakah lautan ladang jagung. Mengombakkan suara itu.// (Taufiq Ismail, Adakah Suara Cemara, 1972).

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: