jump to navigation

Ayah,aku… January 19, 2012

Posted by nindtaa in chocolate.
add a comment

Ayah,aku….

Aku November 20, 2011

Posted by nindtaa in chocolate.
Tags:
1 comment so far

Jika aku bukan perempuan 20 tahun aku akan menangis sejadi-jadinya. Meraung dan terduduk di lantai seperti layaknya yang pernah aku lakuakn 16 tahun yang lalu. Meminta sesuatu, merengek dan akhirnya apa yang aku mau akan datang menghampiriku. Aku lelah, bingung dan tak tahu harus bagaimana. Jiwaku terjebak, dalam sebuah kebebasan yang aku tahu akan sangat sulit aku terbebas darinya. Ya, kebebasan ini adalah penjara. Penjara yang indah, tanpa jeruji besi dan bau anyir di sekitarnya.

Aku manusia biasa. Tak ada manusia yang dapat hidup dengan tenang di bawah tekanan. Tak akan pernah ada. Aku mungkin bukan orang yang pandai bersyukur, atau bukan orang yang memiliki pegangan hidup yang jelas. Ya, inilah aku.. Dengan semilyar kekurangan dan kelemahan yang aku miliki.

Satu hal yang bisa aku lakukan saat ini tak dapat lebih dari sekedar minta maaf, dengan penuh penyesalan kepada semua orang yang telah kubuat kecewa. Mungkin mereka bahkan sudah tak hendak untuk memandangku dari sudut matanya. Maafkan aku.

Aku mungkin tak sekuat perempuan-perempuan baik yang ada di luar sana. Aku hanya sangat lemah. Aku hanya ingin bahagia, dengan caraku saja. Dan inilah caraku sekarang, saat ini dan entah sampai kapan aku akan begini. Aku tahu mungkin cara ini adalah cara yang salah. Tapi percayalah, dengan hidup beginilah aku merasa tenang dan nyaman. Selama aku tak merugikan orang lain atau bahkan dirimu, aku rasa aku aman-aman saja hidup seperti ini.

Aku bukan aku yang dulu. Mungkin banyak orang yang akan bicara begitu saat bertemu denganku. Sekali lagi yang bisa aku ucapkan adalah kata MAAF. maafkan aku tak dapat bertahan, maafkan aku tak dapat seperti dulu lagi. Percayalah bahwa mengenal kalian adalah anugerah terbesar yang pernah aku dapatkan. Memang menenangkan, sungguh. Tapi entah aku tak mengerti… Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.

Hidup bersama kalian mungkin memberiku banyak keselamatan, sekarang ataupun nanti. Di dunia lain setelah hidup yang ini berakhir. Sungguh terimakasih, amat sangat terimakasih. Sekali lagi maafkan aku, aku tak bisa bertahan dengan cara-caramu. Banyak hal yang harus aku lakukan dengan jiwaku, dengan tubuhku, dengan semua yang aku miliki. Jika aku adalah burung, maka aku tak dapat terus berada dalam sangkar, meski aku tahu jika berada di dalamnya aku akan lebih aman. Lebih terjaga dan terjamin segalanya. Namun jika aku tetap di dalam sangkar, aku akan menjadi “bukan aku” untuk selama-lamanya.

Maafkan aku tak bisa bertahan. Sungguh aku tak pernah ingin pergi. Namun masih banyak hal yang harus aku lakukan. Masih banyak.. banyak sekali.. dan semua tak akan pernah bisa selelsai jika aku terus seperti kalian..

maafkan aku tak bisa bertahan.. Tetaplah di jalanmu yang benar. Tataplah masa depanmu dengan penuh binar. Aku baik-baik saja, dan aku akan berjanji padamu bahwa aku akan selalu baik-baik saja.

Terimakasih atas semua yang telah engkau berikan padaku, semuanya… Maafkan aku tak bisa bertahan…

-November, 2011-

Aisha Humaira

aku lelah ma.. October 15, 2011

Posted by nindtaa in chocolate.
Tags:
add a comment

selamat malam.

assalamu’alaykum..

lama raanya nggak nulis di blog ini. Mari perkenalan lagi, halo.. nama saya Nindya Resha Pramesti🙂 dan saya telah mengalami berkali-kali perubahan dalam kepribadian. hehe

pernahkah Anda berfikir tentang bagaimana menjalani hidup se-perfect mungkin?

saya selalu memikirkannya tapi saya tidak pernah bisa melakukannya. Sejak kecil saya selalu berusaha untuk mengalahkan orang lain, mengalahkan mereka dalam hal apapun. Mungkin ini semua karena memang sejak kecil saya sudah secara tidak langsung diajarkan untuk hidup sedemikian rupa.

Awalnya, pada masa kanak-kanak. saya tak henti-hentinya mengumpat, memaki dan menyesali diri sendiri. Kenapa? karena saya merasa kehidupan ini tidak adil bagi saya yang tidak bisa apa-apa. Mungkin sampai sekarang pun, rasa kesal itu maish tetap ada. Jelas saja, tidak semudah itu melupakan hal-hal yang menurut saya “menyakitkan”.

awalnya, sungguh saya sangat kesal dengan kehidupan saya yang sangat terlihat “tidak sempurna”. Bukan karena orang tua saya miskin, atau saya hatus tinggal di kolong jembatan. Bukan karena itu. Melainkan karena suatu hal, yang tidak pernah saya rasakan bahwa saya memilikinya. Seperti tulisan-tulisan lainnya, saya selalu bilang bahwa saya sangat menyesali untuk harus hidup dengan cara yang “kasar”. Ini semua karena tidak ada yang “membimbing” saya seperti anak-anak pada umumnya. Sedikitpun saya nggak pernah minum ASI, mungkin ini faktor utama yang mengakibatkan kelakuan saya “sedikit” kasar. Logikanya, anak manusia, harusnya mengkonsumsi Air Susu Manusia pula, tapi sejak orok, saya sudah harus mengkonsumsi Air Susu Sapi. Setetes pun, tak pernah masuk dalam lambung ini Air Susu Ibu. Dari situ saya berpikir, mungkin ini penyebab saya tidak bisa bertindak seperti layaknya manusia yang “normal”.

Hal kedua yang membuat saya kesal, adalah saya harus belajar sendiri, melindungi diri sendiri, menghibur diri sendiri sejak kecil. Hidup dengan 2 orang tua dan 1 Ayah mungkin sudah cukup membuat saya “bahagia”, namun tidak dengan “Bahagia”. Masih ingat betul saya semuanya, bahkan semua kenangan saat saya masih berumur 4 tahun, saat belajar naik sepeda. Meski telah berkali-kali jatuh, saya tak pernah berhenti untuk bisa, maka jangan kaget jika mengetahui bahwa sekujur tubuh saya penuh dengan bekas luka. Sayangnya, kebanyakan, yang saya ingat adalah hal-hal yang menyakitkan saja, hampir hilang semua di memori otak saya tentang hal-hal yang membuat senyum tercipta, walau hanya semenit saja. Sungguh lupa!. Saat itu, mereka mungkin tak pernah tahu saya sulit membaca, saya sulit menghitung, saya sulit menulis. Menulis huruf  “d” menjadi “b”, menghitung berkali-kali tapi tetap tak temukan hasilnya. Yang mereka mau, hanya ” saya harus bisa “, bagaimanapun caranya. Saat itu pun saya masih ingat, sejak sebelum maghrib hingga menjelang waktu tidur, di kamar tengah tempat saya belajar dan tidur, saya terus memandang rangkaian kata, yang sebenarnya biasa saja, namun saya sama-sekali tidak bisa membacanya. Kemudian ada yang datang dan bertanya “tulisan ini bacanya apa?”, saya cuma diam. Tapi dia marah dan “plak!”. Seperti biasa, dan begitu seterusnya.. Maka dari itu saya terus mencoba, membaca, dengan mendengar. Dan akhirnya, saya bisa membaca, tulisan pertama “Kota Mainan”, dari buku besar berisi buku-buku cerita kecil, yang dibelikan oleh seorang Bibi.

Semua… yang saya ingat hanya begitu-begitu saja.

Ibarat Ular, dia tidak akan menyerang jika ia tidak diganggu.

saya tahu kok, saya menyebalkan, kasar,dan egois. Mungkin begitu orang menyebutnya. Atau bahkan ada yang mengatai saya adlaah orang jahat, orang yang paling buruk, atau bahkan mengatai saya.. setan. well, sebenarnya, saya tidak terlalu peduli dengan perkataan orang lain, karena menurut saya semua orang punya cara hidupnya sendiri.

Tapi 1 hal yag sellau membuat saya kesal adalah…

mungkin banyak orang yang sakit hati karena perkataan atau kelakuan saya, tapi pernahkan mereka berfikir bahwa saya berbuat demikian karena dia dahulu yang membuka kasus antara saya dan dia?.

Well, saya tidak akan mengganggu Anda, namun jika Anda menyakiti saya, saya tidak akan diam saja.

mungkin tulisan diatas pun banyak yang tidak setuju, itu terserah Anda.. Saya Nindya Resha Pramesti, dan inilah saya yang sekarang. Dengan Self Defense yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, Yang tak akan pernah membiarkan orang lain, menjatuhkannya.

saya pernah menjadi lemah, tapi itu membuat saya sakit. Dan sekarang, saya bosan untuk terus-terusan merasa sakit.🙂

selamat malam.

wassalamu’alaykum.

Perahu Kertas September 20, 2011

Posted by nindtaa in chocolate.
Tags:
add a comment

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi

_Sapardi Djoko Damono,Perahu Kertas,1982_

Jangan Ceritakan September 20, 2011

Posted by nindtaa in chocolate.
Tags:
add a comment
bibir-bibir bunga yang pecah pecah. Mengunyah matahari. Jangan ceritakan padaku tentang dingin. Yang melengking malam-malam – lalu mengembun.
♥ _Sapardi Djoko Damono, Jangan Ceritakan, 1971_ ♥

September 10, 2011

Posted by nindtaa in chocolate.
Tags: ,
add a comment
Dengan puisi aku bernyanyi-Sampai sejauh umurku nanti-Dengan puisi aku bercinta-Berbatas cakrawala.
Dengan puisiaku mengenang-Keabadian yang akan datang-Dengan puisi aku menangis-Jarum waktu bila kejam mengiris.
Dengan puisi aku mengutuk-Nafas zaman yang busuk-Dengan puisi aku berdoa-Perkenanlah kiranya…
(Tauifq Ismail, 1965)
Adakah suara cemara. Mendesing menderu kepadamu. Adakah melintas sepintas. Gemersik daunan lepas/ Deretan bukit-bukit biru. Menyeru lagu itu. Gugusan mega. Ialah kencana/ Adakah suara cemara. Mendesing menderu padamu. Adakah lautan ladang jagung. Mengombakkan suara itu.// (Taufiq Ismail, Adakah Suara Cemara, 1972).

Janji bertemu di Surga :) September 4, 2011

Posted by nindtaa in chocolate.
Tags:
2 comments

Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja’ bin Amr An-Nakha’i, ia berkata, “Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia kuat beribadah dan sangat rajin. Suatu saat dia mampir berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha’. Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh dan kasmaran. Dan ternyata, si wanita cantik ini pun begitu juga padanya. Karena sudah jatuh , akhirnya pemuda itu mengutus seseorang melamarnya dari ayahnya. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dijodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar.

Si wanita -akhirnya- mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, ‘Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku’.

Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, ‘Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu,

Sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabb-ku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar.” (Yunus: 15).

Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.’

Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata, “Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertakwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu.” Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan kurus menahan perasaan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan si pemuda itu seringkali berziarah ke kuburannya, dia menangis dan mendo’akannya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik.

Dalam mimpi dia sempat bertanya, “Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?”

Dia menjawab, “Sebaik-baik cinta -wahai orang yang bertanya- adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat menggiring menuju kebaikan”.

Pemuda itu bertanya, “Jika demikian, kemanakah kau menuju?”

Dia jawab, “Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak.”

Pemuda itu berkata, “Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu.”

Dia jawab, “Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah Ta`ala) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah.”

Sumber: -Kisah Nyata Tentang Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi`in, Orang-orang Dulu dan Sekarang, karya Ibrahim bin Abdullah Al-Hazimi, penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. (alsofwah.or.id)
Artikel www.KisahMuslim.com

Kisah Sang Pemburu Cinta September 4, 2011

Posted by nindtaa in chocolate.
Tags: ,
3 comments

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas sesungguhnya suami Barirah adalah seorang budak yang bernama Mughits. Aku ingat bagaimana Mughits mengikuti Barirah kemana dia pergi sambil menangis (karena mengharapkan Barirah, pent). Air matanya mengalir membasahi jenggotnya.

Nabi bersabda kepada pamannya, Abbas, “Wahai Abbas, tidakkah engkau heran betapa besar rasa cinta Mughits kepada Barirah namun betapa besar pula kebencian Barirah kepada Mughits.” Nabi bersabda kepada Barirah, “Andai engkau mau kembali kepada Mughits?!” Barirah mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkanku?” Nabi bersabda, “Aku hanya ingin menjadi perantara.” Barirah mengatakan, “Aku sudah tidak lagi membutuhkannya” (HR. Bukhari no. 5283)

“Setelah membeli seorang budak bernama Barirah, Aisyah memerdekannya. Setelah merdeka, Nabi memanggil Barirah lalu memberikan hak pilih kepada Barirah antara tetap menjadi Mughits atau berpisah dari suaminya yang masih berstatus budak.
Barirah mengatakan, “Walau Mughits memberiku sekian banyak harta aku tidak mau menjadi isterinya”. Barirah memilih untuk tidak lagi bersama suaminya.” (HR. Bukhari no. 2536 dari Aisyah).

Dua hadits di atas mengisahkan seorang budak wanita yang bernama Barirah. Semasa dia menjadi budak, dia memiliki seorang suami yang juga seorang budak. Jadi suami istri adalah sama-sama budak. Suatu ketika pada tahun sembilan atau sepuluh Hijriyah, Aisyah membeli Barirah dari pemiliknya. Setelah menjadi miliknya, Aisyah memerdekakan Barirah dari perbudakan dan ketika itu suami Barirah yaitu Mughits masih berstatus sebagai budak. Jika seorang budak wanita yang memiliki suami itu merdeka maka dia memiliki hak pilih antara tetap menjadi istri dari suami yang masih berstatus sebagai budak ataukah berpisah dari suami yang lama untuk mencari suami yang baru. Oleh karena itu setelah merdeka, Nabi memanggil Barirah dan menyampaikan adanya hak ini kepadanya. Ternyata Barirah memilih untuk berpisah dari suaminya. Selama rentang waktu untuk memilih inilah, Mughits selalu membuntuti kemana saja Barirah pergi. Mughits berjalan di belakang Barirah sambil berurai air mata bahkan air mata pun sampai membasahi jenggotnya karena demikian derasnya air mata tersebut keluar. Ini semua dia lakukan dalam rangka mengharap iba dan belas kasihan Barirah sehingga tetap memilih untuk bersama Mughits. Kondisi ini pun membuat Nabi merasa iba. Sampai-sampai beliau memberi saran dan masukan kepada Barirah agar kembali saja kepada Mughits, suaminya. Namun Barirah adalah seorang wanita yang cerdas. Beliau tahu bahwa saran Nabi itu status hukumnya berbeda dengan perintah Nabi. Oleh karenanya, Barirah bertanya kepada Nabi apakah yang Nabi sampaikan itu sekedar saran ataukah perintah seorang Nabi kepada salah satu umatnya yang wajib ditaati apapun kondisinya. Setelah Nabi menjelaskan bahwa yang Nabi sampaikan hanya sekedar saran maka Barirah menegaskan bahwa dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk kembali kepada Mughits.

Petikan pelajaran:

  • Budak itu tidak sekufu alias setara dalam pernikahan dengan orang merdeka. Oleh karena itu, Barirah memiliki hak untuk memilih antara tetap bersama Mughits ataukah berpisah untuk mencari suami yang lain.
  • Para sahabat Nabi itu memelihara jenggotnya. Di antara mereka adalah Mughits sehingga dikatakan bahwa air mata Mughits itu membasahi jenggotnya. Sehingga orang yang demikian benci dengan jenggotnya sampai-sampai dikerok secara berkala adalah orang yang tidak mau meneladani para sahabat Nabi dalam masalah ini bahkan tergolong tidak mau taat kepada Nabi yang memerintahkan umatnya untuk memilhara jenggot. Seorang laki-laki itu akan semakin gagah dan berwibawa mana kala memelihara jenggot. Dikatakan bahwa Abu Hurairah suatu ketika pernah berkata,

“Sesungguhnya ucapan sumpah para malaikat yang ada di langit adalah kalimat demi zat yang menjadikan seorang pria itu makin tampan dengan jenggot dan menjadikan perempuan semakin menawan dengan jalinan rambut” (Tarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asakir tahqiq Abu Said Umar bin Gharamah al ‘Amrawi, juz 36 hal 343, terbitan Darul Fikr Beirut tahun 1416 H)

  • Saran atau nasihat Nabi itu berbeda dengan perintahnya. Saran Nabi untuk person tertentu itu hasil finalnya kembali kepada pilihan person tersebut. Sedangkan perintah Nabi itu adalah sesuatu yang harus ditaati tanpa ada pilihan yang lain.

“Sesungguhnya perkataan orang-orang yang beriman, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memberi keputusan hukum di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar, dan Kami patuh”. Dan hanya merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. An Nuur:51).

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. al Ahzab:36)

  • di atas menunjukkan bahwa cinta itu terkadang bertepuk sebelah tangan. Dalam di atas nampak sekali besarnya rasa cinta Mughits kepada Barirah namun Barirah demikian benci kepada Mughits.
    Cinta itu tidak harus memiliki. Terkadang rasa cinta tidak harus berujung dengan pernikahan yang langgeng. Lihatlah kandasnya cinta Mughits dan sebuah kenyataan pahit harus ditelan oleh Mughits yaitu tidak bisa lagi memiliki Barirah.
  • Kisah di atas juga menunjukkan bahwa cinta yang over dosis itu bisa menghilangkan rasa malu sehingga menyebabkan pelakunya melakukan berbagai hal yang sebenarnya memalukan

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S, M.A.

Artikel www.KisahMuslim.com

blocked :) September 4, 2011

Posted by nindtaa in chocolate.
Tags:
add a comment

Bismillah..

manusia punya banyak pilihan dalam hidupnya. dan ia berhak memilih apa saja yang dia inginkan selama itu tidak merugikan orang lain. sebagai layaknya manusia normal, saya juga menginginkan yang terbaik untuk diri saya tanpa harus menyakiti orang lain. dan saya yakin ini adalah pilihan yang terbaik.

ada orang yang kita inginkan untuk menjadi teman, ada pula yang tidak kita inginkan kehadirannya. Ingin atau tidaknya ini, memiliki berbagai alasan, mulai dari kita bener-bener terganggu dengan orang tersebut, tidak suka dengan alasan tertentu, atau menghindar karena memang sebaiknya menghindar.

dan pilihan saya jatuh pada pilihan terakhir, yakni menghindar karena memang sebaiknya menghindar. Bukan karena benci atau tidak suka. Tapi sebagai orang yang sekarang sudah dewasa (insyaaALLAH🙂 ) saya rasa inilah keputusan yang terbaik untuk semua pihak.

ini berkaitan dengan pertemanan saya dengan beberapa orang di situs jejaring sosial. Namanya juga jejaring sosial, begitulah adanya, tidak perlu saya ceritakan pastilah semua orang tahu benar bagaimana rasanya punya akun di situs-situs jejaring sosial.

“Allah hendak memberikan keringanan kepada kalian dan manusia diciptakan bersifat lemah.” (an-Nisa’: 28)

Dan ketahuilah bahwa Allah menjadi penghalang antara seseorang dengan hatinya. (Al-Anfal: 24).

Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik” artinya ‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu’ (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi, lihat pula Shohihul Jami’)

PS. mohon maaf pada dua orang yang merasa telah sama block. Semoga dapat dipahami. Jazakumullah khayran katsir.

lilin September 3, 2011

Posted by nindtaa in chocolate.
Tags: ,
add a comment

Malam ini, di tengah temaram lilin yang aku bawa

Kulihat temaram sinarnya jatuh di depan wajahmu

Tak ku lihat jelas bagaimana keadaanmu

Hanya ada sapa dalam diam

Senyum dalam kesepian

Membisu dimakan keheningan malam

Kemudian engkau berjalan berlalu meninggalkanku

Tidak pernah lagi kutahu engkau

Hanya dari kabar-kabar  semu

Namun biar lilin ini menjadi saksi bisu

Akan pertemuanku denganmu

Hari ini, dan esok hari saat aku dan kamu menjadi satu…

392011